Proses bertambahnya pemahaman

Ada sebagian orang yang menganggap bahwa setiap fenomena atau kejadian yang dialami sendiri atau pun yang terjadi disekelilingnya itu memiliki makna tertentu dan secara pribadi akan menambah pemahamannya akan esensi atau pun realitas kebenarannya. Biasanya setiap pemahaman atau pengertian baru akan didahului suatu peristiwa yang berlawanan arah atau berseberangan dan sifatnya cenderung menjauhkan kita dariNya. Pemahaman bisa dikatakan sebagai ‘maqom’, dimana eksekusi dari hasil pemahaman akan berbuah keyakinan.

Jadi pada saat peristiwa itu terjadi diperlukan pengamatan cermat dan menempatkannya pada posisi sewajarnya. Karena proses pemahaman itu melalui akal, dimana akal akan mencoba menyangkal pemahaman itu sendiri. Dalam hal ini akal akan mengalami ‘adjustment’ atau penyesuaian menjadi tercerahkan. Pertanyaannya, apakah akal didisain untuk menentangNya? Jawabannya adalah akal seharusnya dalam kendali kita. Karena akal dibutuhkan untuk menerjemahkan selama jasad masih hidup sekaligus sebagai lawan ketika kita menujuNya. Yaitu menerjemahkan apa-apa yang harus kita lakukan atas hal-hal yang diterima oleh hati dalam kaitan dengan hablum minannass. Pada prinsipnya, kita harus bisa mengendalikan akal.

Jika diperhatikan, kebanyakan peristiwa kalo ditanggapi secara sembrono memang hanya akan memuaskan akal dan nafsu saja.

(Bersambung…)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s