dialog imajiner dengan Allah

Syahdan jaman dahulu kala seorang pejalan spiritual -untuk memenuhi rasa penasarannya- berhasrat berdialog dengan Allah secara langsung. Lantaran tidak tahu bagaimana caranya, dia berhenti di sebuah pondok kosong di tepi hutan yang dilewatinya.

Nampaknya pondok itu sudah lama sekali ditinggalkan penghuninya.   Diambilnya wudhu dari air pancuran di sebelah pondok itu, lalu shalat dua rakaat di atas dipan di teras pondok. Selesai shalat, dia duduk bersila sambil memasrahkan diri hanya ke hadirat Allah. Dibacanya basmalah sambil menyelami sepinya suasana sekeliling. Hanya terdengar suara deretan pohon bambu tertiup angin. Kebetulan siang itu suhunya cukup hangat. Tak berapa lama kemudian dia tersentak karena mulai merasakan sensasi yang aneh. Dia seperti memasuki kesadaran tubuhnya.

Detak jantungnya seolah menyuarakan kalimat tahlil “Laa ilaaha illalaah”. Lalu ketika dia melihat tubuhnya, terlihat warnanya merah bercampur hitam, tanda bahwa banyak bagian tubuhnya yang masih kotor. Sejenak kemudian, tubuhnya seperti ditarik untuk mengikuti gerakan tawaf semesta alam.  Gema kalimat tahlil makin membahana di sekujur tubuh dan sekelilingnya, terdengar jelas sekali ditelinganya.

Suara itu diikuti oleh bacaan-bacaan indah ayat-ayat suci Al-Qur’an yang membuatnya terharu. Ketika suara tahlil muli melemah, dia menyadari dirinya seperti sampai pada suasana yang amat hening. Cukup lama dia dalam suasana keheningan ini. Dengan sabar dan tetap pasrah dia menanti apa yang akan terjadi berikutnya…

Bersambung…🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s