Proses bertambahnya pemahaman

Ada sebagian orang yang menganggap bahwa setiap fenomena atau kejadian yang dialami sendiri atau pun yang terjadi disekelilingnya itu memiliki makna tertentu dan secara pribadi akan menambah pemahamannya akan esensi atau pun realitas kebenarannya. Biasanya setiap pemahaman atau pengertian baru akan didahului suatu peristiwa yang berlawanan arah atau berseberangan dan sifatnya cenderung menjauhkan kita dariNya. Pemahaman bisa dikatakan sebagai ‘maqom’, dimana eksekusi dari hasil pemahaman akan berbuah keyakinan.

Jadi pada saat peristiwa itu terjadi diperlukan pengamatan cermat dan menempatkannya pada posisi sewajarnya. Karena proses pemahaman itu melalui akal, dimana akal akan mencoba menyangkal pemahaman itu sendiri. Dalam hal ini akal akan mengalami ‘adjustment’ atau penyesuaian menjadi tercerahkan. Pertanyaannya, apakah akal didisain untuk menentangNya? Jawabannya adalah akal seharusnya dalam kendali kita. Karena akal dibutuhkan untuk menerjemahkan selama jasad masih hidup sekaligus sebagai lawan ketika kita menujuNya. Yaitu menerjemahkan apa-apa yang harus kita lakukan atas hal-hal yang diterima oleh hati dalam kaitan dengan hablum minannass. Pada prinsipnya, kita harus bisa mengendalikan akal.

Jika diperhatikan, kebanyakan peristiwa kalo ditanggapi secara sembrono memang hanya akan memuaskan akal dan nafsu saja.

(Bersambung…)

GALERI PUISI : LURUS

LURUS
Tetaplah lurus di jalanKu
apa yang tidak kau inginkan pun aku berikan kepadaMu
nikmatilah rasa syukur yang ada di dadamu
demikianlah Aku mengalirkannya kepadamu
Jangan larut dan terpukau oleh dunia
Dunia sengaja Aku ciptakan untuk ujian bagiMu
agar engkau dapat membedakan antara Haq dan bathil
dengan cahaya petunjukKu
Sirnakanlah wujudmu
Mendekatlah kepadaKu dengan sepenuh hati
Cukuplah Aku sebagai penolongmu
Karena Aku ada dimanapun kau ada
Merasa cukuplah atas semua rezeki yang Aku berikan
bersyukurlah atas ketenangan bathin yang Aku alirkan
karena puncak kebahagiaan seorang hamba
adalah saat-saat dia bersamaKu

Cara meraih rasa tenang

Tidak dapat dipungkiri bahwa sifat tergesa-gesa seringkali merugikan diri sendiri, untuk itu dalam setiap situasi seharusnya kita menghadapinya tetap dengan hati yang tenang dan kepala dingin, betapa pun emosi yang mungkin timbul pada saat itu. Lalu bagaimana caranya meraih rasa tenang di hati agar kita tidak gegabah dalam mengambil keputusan?
Pertama, rasa tenang itu bisa muncul tiba-tiba dan merupakan gift dari Sang Pencipta. Sensasinya tubuh kita seperti dialiri energi lembut dari arah dada dan menyebar ke seluruh tubuh. Rasa tenang seperti ini bisa berlangsung sebentar atau pun lama. Untuk bisa memeliharanya kita perlu selalu menselaraskan hati, pikiran, dan tindakan kita sejalan dengan perintahNya.
Kedua, rasa tenang yang diusahakan dengan latihan. Untuk latihannya ada banyak sekali metode yang bisa dicoba. Secara sederhana adalah bagaimana kita dapat melewati segala bentuk lintasan pikiran dan perasaan untuk sampai pada suasana hening. Sensasinya seperti berada di tengah-tengah alam semesta yang luas tanpa batas dan hening. Jika sudah terbiasa, kita dapat melakukannya kapan dan dimana saja. Berikut ini langkah-langkahnya:
1. Carilah tempat yang cukup hening, lalu rilekskan tubuh, sebaiknya dalam keadaan duduk supaya nantinya tidak tertidur 
2. Pasrahkan diri kepada Sang Pencipta, lepaskan semua beban pada tubuh, pikiran, dan perasaan.
3. Kesadaran kita akan bergerak dari sensasi-sensasi ketubuhan serta seperti menikmati hiruk pikuk peristiwa-peristiwa yang berlalu begitu cepat, lalu emosi dan lintasan pikiran yang campur aduk. Lewati semua dengan kepasrahan dan jangan sampai terjebak mengikuti arus pikiran dan perasaan. Hal ini membutuhkan waktu 5 menit sampai 30 menit.
4. Selanjutnya kesadaran kita akan berada di area keheningan. Sensasi di area ini bermacam-macam, salah satunya seperti berada di tepi pantai yang hening.
5. Ucapkan syukur atas anugerahNya telah diberi rasa tenang.
6. Lanjutkan dengan aktivitas yang Anda ingin kerjakan dengan kesadaran tetap berada di area keheningan.

Bagaimana menghilangkan bad mood

Bad Mood atau perasaan tidak enak bisa dialami siapa saja, kapan saja, dan dimana saja. Bad mood yang sudah terlanjur melingkupi perasaan bisa menjadikan hari kita menjadi hari yang membosankan atau malah bikin kesal dan akhirnya apa yang kita lakukan malah berdampak kurang baik buat diri sendiri atau pun orang lain. Untuk mengatasinya, cobalah hal-hal berikut ini:
1. Kenali kehadiran bad mood sedini mungkin sebelum kita terjebak didalamnya. Pertama, bad mood bisa datang dari dalam diri, berupa munculnya perasaan dan pikiran tertentu yang bikin kita ‘gak enak hati’. Kedua, bad mood bisa datang dari luar diri, seperti orang lain, lingkungan (macet, panas), dll.
2. Camkan dalam diri kita bahwa bad mood bukanlah our true identity, hanya seperti etalase yang menawarkan produk-produk perasaan atau pikiran. Seperti pada saat kita jalan-jalan di mal dan hanya ‘window shopping’, kita tidak perlu membeli barang-barang yang ditawarkan. Cukuplah dengan kesadaran yang kita miliki untuk mengidentifikasinya dan sebaiknya menahan diri untuk langsung menanggapi bad mood yang muncul. Karena bad mood belum tentu mewakili kondisi kenyataan yang sebenarnya.
3. Lakukan dialog internal dengan bad mood yang muncul. Carilah tempat yang bisa membuat kita rileks dan tenang mencermati lintasan bad mood yang muncul di hati dan kepala kita. Seperti sifat gelombang, bad mood itu sifatnya sementara (datang dan pergi). Cobalah berdialog dengan bad mood yang muncul. Hal ini dilakukan untuk memahami hal-hal lebih dalam yang sebenarnya diinginkan atau yang harus dihindari dari bad mood tersebut. Percaya dan yakinlah bahwa jiwa atau bathin kita cukup pintar melakukan hal ini dan sebenarnya dialog semacam ini terjadi setiap saat tanpa kita sadari.
4. Tibalah akal memilah-milah hasil dialog untuk kemudian menerjemahkannya ke dalam bentuk rencana aksi yang positif. Karena bisa jadi bad mood muncul untuk memperingatkan kita akan hal-hal yang mesti kita selesaikan.
5. Lakukanlah perbuatan yang telah diolah dan disarankan oleh akal, kalaupun tidak ada aksi, cukuplah kita menahan diri sampai gelombang tsunami bad mood itu mereda.

9 tangga menuju Allah SWT

Seorang Abah -entah di belantara internet yang mana- pernah menulis tentang 9 tangga menuju Allah SWT, yaitu:
1. Beragama Islam
2. Bertaubat dengan Sungguh-sungguh
3. Berserah Diri (tidak mengikuti Hawa Nafsu) – Menjadi Muslimiin
4. Mendapat Rahmat Allah pertama — Disucikan oleh Allah menjadi hamba yang mutahharuun (seperti bayi baru lahir) – Menjadi Mukmin
5. Berdasarkan Iman, melakukan Amal Shalih – Menjadi Muttaqiin
6. Akibat Taqwa berbuah Hasanah – Nur Ilmu (Ilmu Laduni)
7. Mendapat Rahmat Allah kedua – Bertemu Diri – Menjadi Al Muslimiin.
8. Bila sudah bertemu diri, akan selalu dipandu oleh Allah.
9. Menjadi hamba yang Muqarrabuun – Insan Kamil

Semoga bermanfaat.

5 langkah the attracting factor

Berikut ini 5 langkah untuk mengaktifkan the attracting factor:
1. Hapus mental block dari pikiran bawah sadar.
2. Program ulang pikiran bawah sadar
3. Tentukan sasaran/tujuan yang ingin dicapai
4. Perkuat sasaran/tujuan dengan vibrasi, fokuskan, dan visualisasikan
5. Pasrahkan hasilnya.

Semoga bermanfaat.

Cara Mudah Mengenal Diri Sendiri

Di jaman globalisasi ini banyak orang kehilangan jati diri lantaran terombang ambing oleh sedemikian banyak tradisi dan tatanan sosial tanpa batas negara.
Nah, untuk mengenal diri sendiri tidak diperlukan biaya muahal dan tidak harus mencari-cari sampai ke gunung himalaya, cukup kiranya kita melakukan perjalanan ke dalam diri. Seiring dengan berjalannya waktu kita akan mulai mengenal pola-pola dasar dari diri kita.
Pada dasarnya diri kita terdiri atas tiga komponen:
1. Tubuh (Body)
2. Akal Pikiran (Mind)
3. Jiwa (Soul)

Tubuh (Body)
Tubuh kita dibentuk dari unsur-unsur alam yang ada di alam semesta, dengan kata lain manusia itu mikrokosmos dan alam semesta adalah makrokosmos. Untuk bisa mempertahankan eksistensinya, tubuh ini dilengkapi dengan hawa nafsu, di mana setiap keinginan dari tubuh terdeteksi datangnya dari hawa nafsu yang jumlah dan kepekatannya sangat beragam pada tiap-tiap manusia.

Akal Pikiran (Mind)
Akal bertugas mengumpulkan, menyimpan, menganalisis, memilah-milah, mengkategorikan data dan informasi yang diterimanya baik dari dunia luar maupun dari dalam diri. Dengan logikanya, akal menerjemahkan informasi tersebut sesuai tingkat pemahamannya untuk kemudian memberikan pemecahan yang tepat bagi setiap persoalan yang dihadapi.

Jiwa (Soul)
Jiwa ini yang menerima ilham dua jalan, kejahatan dan ketaqwaan. Setiap saat kita menerima ilham. Jiwa ini berkembang sesuai dengan pemahaman dan aktualisasinya dalaam kehidupan. Disinilah ‘tempat’ kesadaran bercokol. Bisa diibaratkan jiwa ini seperti ruang kokpit dalam pesawat. Semua masukan dari dalam maupun luar dapat terdeteksi didalamnya. Jiwa tidak terbatas pada ukuran jasad fisik kita.

Dengan membaca artikel ini, saya yakin Anda telah memulai suatu proses pengenalan diri yang pada awalnya dipicu oleh sebab-sebab tertentu, namun dapat ditarik benang merah bahwa Anda telah menerima panggilan alam untuk memulai suatu perjalanan yang tiada akhir.

Jangan jengkel pada siapapun

Judul di atas adalah salah satu tips agar rejeki (keinginan atau hajat) kita bisa lebih mudah tercapai. Karena perasaan jengkel itu menutup pintu keberkahan. Dan untuk mengatasi rasa jengkel ini kuncinya satu, yaitu perbanyak rasa syukur. Jika kita jengkel terhadap pasangan hidup, bisa jadi pasangan itu edisi spesial buat diri kita yang edisi taon depan belum tentu ada hehe. Jadi syukurilah semua yang ada yang sudah kita miliki dan terimalah pasangan, anak, orang tua, mertua, tetangga, dll dengan apa adanya. Jadi sambil melakukan tips sedekah untuk memancing rejeki, perbanyak bersyukur dan hindari perasaan jengkel pada siapapun.
Semoga bermanfaat

Nasehat tentang sabar

Jika kamu ingin menjadi orang yang bertaqwa, bertawakal, dan yakin, hendaklah kamu bersabar karena sabar merupakan asas dari setiap kebaikan. Jika niat kamu benar dalam bersabar, yakni untuk mencari keridhaan Allah SWT. maka Allah membalasmu dengan memasukkan cintanYa dan kedekatan dariNya ke dalam hatimu di dunia maupun di akhirat. Sabar berarti ridha kepada Allah SWT, dalam semua ketetapanNya yang telah terdahulu dalam ilmuNya. Tidak ada seorang makhluk pun yang mampu menghapusnya. Seorang mukmin yang yakin harus mempunyai keteguhan semacam ini kemudian bersabar atas ujian yang menimpanya secara sadar, bukan terpaksa. Karena bersabar pada langkah permulaan seperti terpaksa, kemudian pada langkah berikutnya dihadapi dengan penuh kesabaran.
(dikutip dari buku Menjadi Kekasih Allah)